Menggugat Perayaan Proklamasi!


13092593811820094453
Panjat Pinang. Foto http://pkfk.kompas.com

Masihkah perlu merayakan proklamasi?
Walau tanggal 17 Agustus masih jauh, segala persiapan untuk merayakan proklamasi sudah dimulai. Bahkan di beberapa daerah di Indonesia ada yang merayakannya sengaja di akhir Juli ini dengan perlombaan ala 17-an . Mungkin ini pertimbangan teknis, karena 1 Agustus telah memasuki bulan Ramadhan. Sehingga, dengan pertimbangan puasa, perayaan Proklamasi Kemerdekaan di percepat. Hal ini tentu memunculkan pertanyaan, apakah masyarakat benar-benar memahami fakta sejarah Proklamasi? dan apakah mereka tahu bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI terjadi pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 dan pada saat itu adalah bulan Ramadhan?

Perayaan 17-an sudah menjadi tradisi yang turun temurun. Dari pemerintah pusat hingga daerah, dari kelompok darma wanita pusat hingga ibu-ibu di lingkungan RT/RW. Mereka merayakannya dengan hiburan, sukacita dan bersenang-senang melalui permainan dan lomba seperti balap karung, makan kerupuk, dan panjat pinang. Bahkan ada yang membuat karnaval mobil hias, sepeda hias dan karnaval anak-anak dengan hiasan baju adat tradisional, dan lain sebagainya. Nampaknya proklamasi masih menjadi momen penting bagi bangsa yang berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa ini.

Namun, pertanyaannya, masih pantaskah perayaan Proklamasi kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan darah dan air mata oleh para pahlawan dan pendiri bangsa ini hanya dengan merayakannya seperti itu? Apakah tidak ada cara lain yang lebih arif dan mendidik demi pembangunan karakter dan generasi yang lebih baik nantinya? Atau memang kita nggak perduli? Ingat, perayaan-perayaan semacam itu telah menghasilkan generasi yang pragmatis, individualis, hedonis dan materialis akut.

1309256536457547861
Rumah Bung Karno yang menjadi tempat dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan RI.

Lantas, kalau ada yang bilang cara kita merayakan proklamasi tidak ada hubungannya dengan keterpurukan bangsa/atau dilecehkannya kita oleh bangsa lain, berarti dia tidak memahami korelasi antara masa lalu dengan masa kini, dan masa kini dengan masa depan. Perlu diingat, setiap apa yg kita lakukan dalam merayakan sesuatu adalah cermin dari diri dan identitas kita sebagai bangsa yang akan berimplikasi kuat dan akan hadir di masa depan.

Dari sini lah terlihat, bahwa kita sudah pragmatis, individualis dan hedonis-materialis yang bukan lagi gosip, tetapi sudah menjadi fakta. Perayaan proklamasi misalnya, jadi tidak berjiwa, karena hanya kesenangan belaka. Nina bobo yang diberikan oleh Belanda sejak jaman penjajahan masih kita lestarikan. Bermain injak-injakkan, saling kotor2an untuk memperebutkan sesuatu yang menurut saya nilainya tidak seberapa. Hanya lucu-lucuan, hanya saling berpesta pora, tanpa sadar semakin hari kita semakin melupakan jati diri dan identitas kita sebagai bangsa. Tanpa sadar bahwa penjajahan bentuk baru telah menyerang dengan cepat terhadap bangsa ini. Dimana "soft power" kita lah yang diserang dan dihancurkan oleh bangsa lain melalui globalisasi dan modernisasi, melalui kemudahan teknologi dan kenyamanan masa kini, melalui HAM dan demokratisasi ala barat serta liberalisasi. Kita terlena, kita dibuai dengan sekonyong-konyongnyanya melupakan masa lalu, kita melupakan tradisi dan kearifan lokal, kita melupakan asal dan akar kita tempat kita berpijak. Kita menjadi rapuh, kita menjadi mudah diadu domba dan dilecehkan oleh bangasa lain. Karena kita tidak memiliki rasa & semangat membela ketika sebagian dari apa yang kita miliki dicabik-cabik oleh bangsa lain, karena kita tidak mengenali dan menyadarinya, bahwa itu milik dan hak kita.


13092598391907335792
Lomba Merangkak seperti Bayi



1309259940233506028
Lomba menangkap ikan

"Untuk menghancurkan suatu bangsa, hancurkan ingatan sejarah generasi mudanya!" (Quote by Asep Kambali).

Semua problema mendasar di atas hanya mampu diselesaikan melalui pemahaman/kesadaran sejarah dan budaya. Hanya akan selesai jika kita memiliki harmoni antara moderenisasi dengan tradisi, antara globalisasi dengan glokalisasi, antara masa kini dengan masa lalu. Untuk itu lah, jalan atau cara-cara kita berkehidupan seyogyanya berlandaskan pada sejarah dan kebudayaan. Karena disitulah letak kearifan/kebijaksanaan. Coba saja, kita tanya anak-anak remaja, mungkin juga sebagian orang tua kita, apa mereka tahu arti Indonesia? Siapa yang memberi nama Indonesia pertama kali? Kapan? Dll. Apakah mereka memahami itu? Belum lagi jika diminta menyebutkan pancasila, teks proklamasi, lagu2 perjuangan dan nasional/daerah, apakah mereka mampu memahami dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari2? Apakah mereka tahu letak Pulau Dana, Pulau We dan Rote? Nah, jika proklamasi dirayakan semata2 hanya kesenangan belaka yg dicari, hasilnya saya yakin kita akan semakin melupakan kekayaan sejarah dan budaya kita. Kita akan jadi tidak berjati diri dan tidak berkarakter. Tidak akan ada lagi ruang bagi kita untuk mengasah pemahaman dan membangun harmonisasi kehidupan. Dampaknya, ketika ada klaim sejarah dan budaya dari bangsa lain, kita hanya mampu diam seribu bahasa, karena kita tidak memiliki pemahaman dan pengetahuan terhadap apa yg diklaim bangsa asing itu. Ingat, The knowledges is the power!Akibatnya, kita harus rela kehilangan. Karena kita tidak mengenalinya, karena kita tidak merasa memilikinya. Jika tak kenal, maka tentu kita tak akan sayang. Begitulah kita terhadap bangsa sendiri. Sedih dan ironis bukan?!


13092578621463608277
Bung Hatta memberikan sambutan. Menurut Anda, foto ini diambil setelah atau sebelum pembacaan Proklamasi oleh Bung Karno?

Saya tekankan bahwa, bukan berarti perayaan yang sudah ada sekarang yang sering kita selenggarakan itu semuanya tidak baik dan tidak bermanfaat, tetapi alangkah lebih bijaksana jika kemerdekaan itu kita maknai sebagai sarana introspeksi, sarana belajar mengenal Indonesia secara mendalam, sarana membangun kesadaran tentang bagaimana cara mengisi kemerdekaan agar nasionalisme kita tidak semu, agar nasionalisme kita berdasar pada pemahaman sejarah dan budaya yang luhur, sehingga identitas dan jati diri itu terbangun, karena itulah yang disebut sebagai upaya membangun karakter bangsa itu.

Usulan Kongkret!
Coba deh, kita merayakannya dengan mengadakan lomba baca teks proklamasi, lomba menyanyikan lagu perjuangan, role playing/bermain peran tokoh sejarah dan pejuang, memecahkan puzzle sejarah, membuat media interaktif sejarah, nonton bareng film sejarah perjuangan/dokumenter, diskusi dan malam renungan kemerdekaan, napak tilas proklamasi, berkunjung ke Tugu Proklamasi, history amazing race, kunjungan ke keluarga pejuang, dll., masih banyak lagi... kalau itu sudah dilakukan, jauh lebih bangga disebut bangsa terdidik yang bijak, ketimbang disebut sebagai bangsa yang pragmatis dan hedon, bukan??? ;-)


1309261105933480298
Pasukan Pengawal Kepresidenan (papampres) Jaman Doeloe

*Tulisan ini dimaksudkan agar perayaan Proklamasi mendatang yang kita selenggarakan bisa lebih bijaksana, mendidik namun tetap seru dan fun. Semoga!


Sukatani, 31 Juli 2011

Salam Historia!

Asep Kambali
Pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI)
Follow me @Asep Kambali | Follow us @IndoHistoria)
http://www.komunitashistoria.org/

Cara mengetahui jenis kelamin fossil?

Bagaimana bisa mengetahui jenis kelamin fossil? 
How to Tell Fossil's Sex? Well, the Egg is a Clue. 
Science Times, Tuesday, January, 25, 2011.

By: Sumarsongko Sastrowardoyo (Honorary Senior Member)
Long Island-New York, USA.


Para ahli ilmu pengetahuan telah menemukan suatu fosil  pterosauria lestari  berunur 160 juta tahun, bersama-sama dengan sebuah telurnya. Pterosauria adalah reptil terbang dari berbagai ukuran yang hidup berdampingan dengan dinosauria  dari akhir periodaTriassik sampai perioda Kretaekous. Meskipun contoh lain dari spesis pterosauria, Darwinopterus, telah ditemukan sebelumnya, fosil ini, yang dibeli dari seorang petani di Tiongkok, memberikan informasi yang penting. "Dalam hampir tak ada sama sekali dari koleksi sebelumnya dapat kita katakan gender apa fosil ini," kata David Unwin, seorang ahli paleobiologi (biologi kuno) pada the University of Leicester, di Inggeris, dan salah satu pengarang studi.

"Ini adalah hubungan pertama sebuah telur dengan suatu fosil dewasa, sehingga kami dapat mengenalnya sebagai seekor betina."  Penemuan ini, yang dimuat dalam jurnal Science, memberikan bukti yang para ahli ilmu pengetahuan sebelumnya hipotesa: bahwa pterosauria betina memiliki pinggul  lebih besar daripada yang jantan dan tidak memiliki hiasan kepala di atas tengkorak. Pterrosauria jantan memili hiasan kepala lebih besar. Telurnya kelihatan berkulit lunak, lebih mirip dengan telur buaya-buaya daripada telur burung-burung. Ini menyatakan secara tak langsung bahwa, seperti buaya-buaya dan reptil-reptil lainnya, pterosauria-pterosauria barangkali mengubur telur-telurnya, daripada menetaskan (mengeram) telur-telur, seperti burung-burung lakukan.

Dr. Unwin mengatakan bahwa fosil telah memberikan gambaran pendahuluan yang baik dari biologi pterosauria."Yang perlu kita lakukan sekarang," katanya," adalah melihat pada banyak pterosauria dan melihat pada hal-hal lain seperti ukurannya: Apakah pterosauria jantan khas lebih besar atau lebih kecil daripada yang betina? Dan pokok-pokok yang kita ketahui sebagai spesis hidup, kita sekarang lihat dalam pterosauria."

Diterjemahkan secara singkat dan diberi beberapa anotasi seperlnya.

Salam Historia!

Apakah Sejarah itu???

THE HISTORY GUIDE
Apa itu Sejarah???

Dikutif dari http://www.historyguide.org/history.html

Berikut ini beberapa kutipan tentang sejarah dan sejarawan pesawat itu. Mereka telah diambil dari berbagai sumber dan mereka muncul di sini dalam urutan acak total. Tujuan mereka adalah untuk menghasut, energi dan merangsang imajinasi historis.

* * *

"'Sejarah,' Stephen berkata, 'merupakan mimpi buruk dari yang saya mencoba untuk terjaga.'" James Joyce

"Karena sejarah tidak memiliki nilai ilmiah yang benar, satu-satunya tujuan adalah edukatif masa lalu. Dan jika sejarawan lalai untuk mendidik masyarakat, jika mereka gagal untuk bunga yang cerdas dalam, maka semua belajar sejarah mereka tidak bernilai kecuali sejauh yang mendidik sendiri GM. "Trevelyan.

"Untuk setiap mata, mungkin, garis besar sebuah peradaban besar memberikan gambaran yang berbeda;. Dalam luas lautan atas mana kita usaha, mungkin cara dan arah banyak dan sama studi yang telah melayani untuk pekerjaan saya mudah mungkin, di lain tangan, tidak hanya menerima perlakuan yang berbeda sepenuhnya dan aplikasi, tetapi mengarah pada dasarnya kesimpulan yang berbeda Burckhardt. "Yakub

"Sejarah adalah saksi yang memberi kesaksian berlalunya waktu; itu menerangi realitas, vitalizes memori, menyediakan panduan dalam kehidupan sehari-hari, dan membawa kita kabar kuno." Cicero

"Masa lalu adalah sia-sia.. Itu menjelaskan mengapa itu adalah masa lalu" Wright Morris

"Kesetiaan pada kebenaran sejarah melibatkan lebih dari suatu penelitian, namun sabar dan teliti, menjadi fakta-fakta khusus mungkin seperti itu. Fakta-fakta di rinci dengan ketepatan menit paling, dan namun narasi, secara keseluruhan, mungkin unmeaning atau tidak benar. narator harus berusaha untuk mengilhami diri dengan kehidupan dan semangat waktu di. Ia harus mempelajari kejadian mereka di bantalan dekat dan jauh karakter, kebiasaan, dan perilaku orang-orang yang mengambil bagian di dalamnya.; Ia harus dirinya, karena itu, seorang pengikut atau penonton dari tindakan dia menggambarkan Parkman. "Francis

"Sejarah... Memang sedikit lebih dari daftar kejahatan, kebodohan, dan kemalangan umat manusia." Edward Gibbon

"Tidak benar ada sejarah, biografi saja." Ralph Waldo Emerson

"Kajian sejarah adalah obat terbaik untuk sakit pikiran, karena dalam sejarah Anda memiliki catatan dari berbagai pengalaman manusia yang tak terbatas dengan jelas ditetapkan untuk semua untuk melihat, dan dalam catatan bahwa Anda dapat menemukan diri Anda dan negara Anda baik contoh dan peringatan; hal-hal yang baik untuk mengambil sebagai model, hal-hal dasar busuk melulu, untuk menghindari Livy. "

"Apa pengalaman dan sejarah mengajarkan ini-bahwa orang-orang dan pemerintah tidak pernah belajar apapun dari sejarah, atau bertindak pada prinsip-prinsip dideduksi dari itu." GWF Hegel

"Semuanya harus kembali dan dipindahkan dalam kerangka umum sejarah, sehingga meskipun kesulitan, paradoks fundamental dan kontradiksi, kita bisa menghormati kesatuan sejarah yang juga merupakan kesatuan hidup." Fernand Braudel

"Fungsi dari sejarawan bukan untuk mencintai masa lalu maupun untuk membebaskan diri dari masa lalu, tapi untuk menguasai dan memahami hal itu sebagai kunci untuk memahami masa kini." EH Carr

"Jika Anda tidak menyukai masa lalu, mengubahnya." William L. Burton

"Sejarah tidak apa-apa, tidak memiliki kekayaan yang sangat besar, perkelahian tidak ada pertempuran ini. Ini bukan manusia, yang hidup, manusia sejati, yang melakukan segalanya, memiliki, perkelahian,. Hal ini tidak Sejarah seolah-olah dia adalah orang terpisah, yang menggunakan laki-laki sebagai alat untuk bekerja di luar tujuan, tapi sejarah itu sendiri tidak lain adalah aktivitas manusia mengejar tujuan mereka Marx. "Karl

"Seorang sejarawan harus menghasilkan dirinya untuk subjek, menjadi tenggelam dalam tempat dan masa pilihannya, berdiri terpisah dari sekarang dan kemudian untuk tampilan yang segar." Samuel Eliot Morison

"Sejarah adalah untuk diri-pengetahuan manusia;. Mengetahui diri sendiri berarti mengetahui, pertama, apa itu dengan menjadi orang kedua, mengetahui apa yang menjadi jenis orang yang Anda, dan ketiga, mengetahui apa itu harus orang Anda dan orang lain adalah;. Mengetahui diri berarti mengetahui apa yang dapat Anda lakukan dan karena tidak ada yang tahu apa yang bisa mereka lakukan sampai mereka mencoba, satu-satunya petunjuk untuk apa yang manusia bisa lakukan adalah apa yang manusia telah dilakukan adalah. Nilai sejarah, kemudian, yang mengajarkan kita apa yang telah dilakukan manusia dan dengan demikian apa manusia itu. "RG Collingwood

"Sejarah lebih atau kurang tidur." Henry Ford

"Itu sejarawan harus memberikan negara mereka sendiri istirahat, saya memberi Anda, tetapi tidak sehingga hal-hal yang berlawanan dengan fakta negara.. Sebab ada banyak kesalahan dibuat oleh penulis keluar dari kebodohan, dan setiap mana manusia menemukan kesulitan untuk Sebaiknya hindari jika kita sadar menulis apa yang palsu, apakah untuk kepentingan negara kita atau teman kita atau hanya untuk menyenangkan, apa perbedaan yang ada antara kami dan penulis hack? Pembaca harus sangat memperhatikan dan kritis terhadap sejarawan, dan mereka pada gilirannya akan akan terus-menerus menjaga mereka Polybius. "

"Anda telah diperhitungkan bahwa sejarah seharusnya untuk menilai masa lalu dan untuk menginstruksikan kontemporer dunia untuk masa depan.. Hadir Usaha tidak menghasilkan ke tinggi bahwa kantor ini hanya akan memberitahu bagaimana sebenarnya." Leopold von Ranke

"Waktu dalam menarik dan tanpa henti sepanjang alirannya membawa pada banjir diciptakan segala sesuatu dan mereka tenggelam di kedalaman ketidakjelasan.... Tapi kisah sejarah membentuk benteng yang sangat kuat terhadap aliran waktu, dan cek dalam beberapa ukuran yang aliran tak tertahankan, sehingga, segala sesuatu yang dilakukan di dalamnya, sebanyak sejarah telah diambil alih itu mengamankan dan mengikat bersama-sama, dan tidak memungkinkan mereka untuk menyelinap pergi ke dalam jurang pelupaan Comnena. "Anna

"Hanya-baik untuk-tidak ada yang tidak tertarik pada masa lalunya." Sigmund Freud

"Setiap masa lalu layak mengutuk." Friedrich Nietzsche

"Sejarawan tidak hanya tidak datang untuk mengisi kesenjangan memori.. Dia terus-menerus tantangan bahkan kenangan yang telah bertahan utuh" Yosef Hayim Yerushalmi

"Setiap usia mencoba untuk membentuk konsepsi sendiri dari masa lalu. Setiap. Usia menulis sejarah masa lalu lagi dengan mengacu pada kondisi teratas sendiri dalam waktu" Frederick Jackson Turner

Revisi Terakhir - 13 Mei 2004

Menjadi Sejarawan yang baik

MENJADI SEJARAWAN YANG BAIK

Dikutif dari 

Setahu saya, seorang mahasiswa sejarah harus menguasai filsafat sejarah. Karena itu, dalam salah satu semester, ia harus mengambil mata kuliah filsafat sejarah. Mata kuliah ini bukan sembarang mata-kuliah. 

Dilihat dari bobot, filsafat sejarah memiliki nilai tiga sks. Dan dirasakan bersama, filsafat sejarah mampu membekali seorang calon sejarawan agar dapat kritis dan rasional. Bagaimana mungkin, ada sejarawan yang dungu dan percaya akan segala hal yang berbau klenik.

Biasanya, buku pengantar mata kuliah filsafat sejarah adalah Refleksi tentang Sejarah: Pendapat-Pendapat Modern tentang Sejarah. Buku ini ditulis F.R. Ankersmit. Diterbitkan oleh Gramedia pada 1987 dan diterjemahkan oleh Dick Hartoko, buku tersebut dipakai bertahun-tahun oleh mahasiswa-mahasiswa sejarah di almamater saya. Karena lama sekali dipakai dan tidak dicetak ulang, saya sendiri hanya bisa mengopi buku itu.

Mungkin buku itu sudah ketinggalan zaman beberapa tahun ke belakang ini. Sudah banyak penerbit, kiranya, yang juga ikut menerbitkan buku-buku pegangan untuk mata kuliah filsafat sejarah. Saya merasa, banyak mahasiswa sejarah sekarang yang sudah lebih mudah mendapatkan buku-buku pengantar tersebut.

Syukurlah, Gramedia juga tidak tertinggal dalam hal itu. Pada 2007 lalu, Gramedia ikut menerbitkan buku pengantar yang baik untuk mata kuliah filsafat sejarah. Dan, setelah saya baca, ternyata jauh lebih menarik dan sungguh mengasyikkan dari Refleksi tentang Sejarah yang juga diterbitkan Gramedia pada 1987.

Buku yang saya maksud berjudul The Historian. Ditulis oleh Elizabeth Kostova. Dengan bahasa yang mudah, para pembaca, terutama seorang calon sejarawan, dibawa untuk menjadi kritis ketika menjadi seorang sejarawan betulan kelak. Ternyata, usaha Kostova saya nilai berhasil. Saya sendiri terenyuh dan kembali merenungi karir saya sebagai seorang sejarawan yang selama ini, bisa dikatakan, kurang kritis dan logis.

TUGAS SEJARAWAN
Menjadi sejarawan, bagi saya selama ini, seperti menjadi seorang tukang jaga arsip. Dan ini tentu saja salah. Entah kenapa, membaca The Historian, saya disadarkan kembali bahwa menjadi seorang sejarawan bukanlah gampang. Ada tanggung jawab moral yang besar. Jauh lebih besar dari sekedar mencari jutaan rupiah lewat proyek-proyek penelitian bersponsor.

Kostova membawakan contoh mudah dalam sebuah uraian perjalanan hidup seorang sejarawan. Ia seolah-olah ingin kita menyadari bahwa sejarawan harus seperti orang itu.

Lahir sebagai seorang laki-laki, Rossi, sang sejarawan itu, menyadari bahwa ia memiliki ketertarikan yang sangat pada sejarah. Hidupnya adalah sejarah. Lulus dari almamaternya, ia menekuni satu subjek ke satu subjek yang lain. Setiap ketertarikan yang muncul ia jelmakan menjadi sebuah penelitian pribadi dan tuntas dan sudah pasti tanpa sponsor penelitian. Vitalitas hidupnya tersalurkan lewat berbagai penelitian dan penulisan.

Dari hasil penelitian itu, ia bukukan dan meraih sukses besar di pasar para pembaca. Pada akhirnya, orang-orang mengenalnya sebagai seorang penulis yang cergas. Bahasanya enak dibaca dan, tentu saja, bahasan-nya perlu untuk diketahui. Ia dan buku-bukunya pun pada akhirnya mendunia.

Tidak berbeda dengan Rossi, Vlad adalah laki-laki yang mencintai sejarah. Bedanya, dengan vitalitas hidup yang tak padam-padam, ia terus lari dari kematian-kematian yang direncanakan oleh musuh besarnya, penguasa Turki. Ia pun tak sempat meneliti dan menulis.

Akan tetapi, dalam semua pelarian itu, ia sadar, ia harus hidup dan perlawanan pun harus dilakukan. Lebih dari itu, ia pun sadar, pengkhianatan, musuh dalam selimut dan jati diri sebagai manusia adalah sesuatu yang nyata. Ia belajar dari sejarah untuk menghindari itu semua.

Orang-orang yang mengenal dan mengaguminya berpendapat, Vlad adalah manusia yang tak menyerah pada kematian. Ia hidup dan menemani setiap napas yang mengiriringi seseorang ketika menyebut namanya. Ia sering dikagumi, sebagaimana banyak orang yang sering bergidik mendengar biografinya.

SEJARAH YANG TAK USAI
Agak sedikit aneh, ketika menyadari bahwa ada pribadi menarik lainnya yang dibawakan Kostova dalam buku ini. Helen adalah wanita yang memberikan hidupnya untuk mempelajari sejarah Vlad. Ia tentu saja tahu bahwa Vlad adalah sejarah yang tak pernah usai. Helen terdorong akan hal ini dari ibunya. Dalam kesederhanaan cara berpikir ibunya, Helen mesti tahu Vlad dan kalau bisa bertemu dengannya langsung.

Tanpa disadari semua, Rossi, sang sejarawan, mulai berubah ketika berkenalan dengan Vlad. Perkenalan itu dimulai dari hadiah yang diberikan Vlad, sebuah buku kuno. Buku itu menarik perhatian Rossi. Kualitas sampul, kertas, penjilidan, dan material buku memaksanya untuk terus memikirkannya. Dan satu yang pasti: buku itu tidak dibuat pada zamannya.

Sebagaimana kita tahu, pada dasarnya, seorang sejarawan adalah seorang pembaca buku yang baik. Kalau anda bertemu seseorang yang mengaku sejarawan, tapi ternyata seorang pembaca buku yang payah, ketahuilah, dia bukan sejarawan. Barangkali, ia adalah laki-laki yang menumpang di geladak sejarah. Atau, bisa jadi, ia seorang antikuariat yang konyol.

Perkenalan dengan Vlad membuat Rossi agak sedikit berantakan. Ia yang dulu tuntas dalam melakukan penelitian-penelitian, sekarang, payah dan menelantarkan penelitiannya hanya karena alasan-alasan yang tak masuk akal. Dan pertama kali dalam hidupnya, ia gagal menerbitkan sebuah buku. Memang, di luar penelitian dan penulisan, ia juga mengajar. Kebesaran namanya ternyata bisa dipertahankan lewat kuliah-kuliahnya yang menarik dan menantang rasa ingin tahu setiap mahasiswa.

Salah seorang mahasiswanya adalah Paul. Ia adalah laki-laki Amerika yang tertarik pada sejarah. Ia pun mengagumi Rossi. Baginya, tidak ada dosen yang seluar biasa Rossi. Kepercayaan, kedekatan pribadi, dan juga tanggung jawab sebagai seorang sejarawan memaksa Rossi untuk membagi alasan-alasan di balik perubahan yang terjadi pada dirinya. Dan Paul sejak saat itu sadar: menjadi sejarawan tidak seperti menjadi seorang tukang becak…

SEBUAH REFLEKSI
Terus terang, membaca The Historian memaksa kita mengunyah nada-nada murung yang ada dalam sejarah. Sejarah itu sendiri menarik. Bahkan, jauh lebih menarik dari mempelajari politik. Sejarah suatu bangsa mungkin saja melulu berupa sejarah politik. Tapi sesungguhnya jauh lebih luas daripada itu.

Dalam sejarah, kita bisa mengenal perjalanan sebuah pembalut wanita dan tentu ini masuk ke dalam sejarah fashion. Dalam sejarah kita pun dapat belajar dari seorang pembuat teh, sehingga kita tahu alasan Nugie di balik penggubahan lagu “Pembuat Teh.” Sejarah pun membuat kita bisa paham, apa arti menjadi seorang pelacur.

Saya yakin, anda akan bilang, saya terlalu mengada-ada. Tapi, terus terang, buat apa saya berbohong. Sejarah hari ini adalah sejarah tentang hal-hal yang remeh-temeh. Tentang beras, celana dalam, gaya rambut, sepeda tua, gudang pelabuhan, semua sekarang dikaji oleh sejarawan. Semua itu, bagi mereka, harus masuk ke dalam buku-buku sejarah.

Dalam semua itu, seseorang yang ingin menjadi sejarawan diajarkan untuk selalu berproses. Mencatat lalu mencatat dan terus mencatat, ia dituntut untuk tidak menyepelekan arti sebuah fakta kecil di depannya. Ia seolah diminta untuk selalu berkomentar secara tertulis atas sebuah penemuan fakta baru dan, ya, tanpa meninggalkan sikap kritis. Dari komentar-komentar tersebut, ia bisa mudah menganalisis. Kostova menekankan semua itu dalam bukunya.

Dan kesimpulannya, sejarah adalah lembaran-lembaran yang membutuhkan totalitas kita. Tanpa itu, rasanya, tak usahlah repot-repot menjadi seorang sejarawan. Sejarah luas dan kaya, sehingga tak bisa dibatasi oleh kategori-kategori tertentu. Apakah dengan demikian sejarah akan bukan lagi ilmiah? Saya katakan, ya. Tapi bisa juga, tidak. Semua kita yang mengusahakan dan barangkali juga dengan doa.***