Sejarah terjadinya negeri penjajah (2)

Oleh : Sumarsongko Sastrowardoyo

Orang-orang yang mengerjakan dengan bangga menyebut diri mereka sendiri bebas, memberikan kesetiaan hanya kepada masyarakat mereka. Sewaktu pasukan Romawi sampai dekat sungai Rhine, orang-orang Frissia menolak untuk membayar upeti, menyatakan bahwa laut telah mengambil semua pajak yang mereka mampu bayar. Seperti orang-orang Skotlandia yang dalam beberapa hal lain, orang-orang Frissia tidak pernah ditaklukkan kerajaan Romawi.Kumpulan hukum mereka yang tua, adalah hukum Hak Ketuhanan yang dianggap sedemikian sucinya sampai tidak dapat ditulis.

Kumpulan hukum ini mengajar kepada manusia untuk menilai fikirannya sendiri untuk memerangi kejahatan, untuk melindungi yang tidak bersalah, dan untuk mencegah kekejaman. "Tidak ada perintah yang dapat mematahkannya"! Kumpulan hukum ini mengajarkan "hak di atas kekuatan" dan "kebebasan di atas perbudakan." "Pembunuhan harus dikurangi dengan pembunuhan ..... punggung pembunuh harus dipatahkan ..... seorang pencuri harus dipenggal kepalanya." Kejahatan-kejahatan yang lebih kecil didenda, besarnya denda tergantung kepada pelanggaran. Memotong hidup orang didenda 78 shilling, telinganya 38 shilling, membunuh anjing pemburu didenda delapan shilling, terkecuali anjing kesayangan.

Ada kalanya gundukan-gundukan tanah tidak dapat lagi menyokong penduduk yang semakin bertambah. Mengail masih sangat primitif,dan lebih banyak tanah diperlukan untuk pangan dan makanan ternak. Untuk menangggulangi problem ini, gundukan-gundukan tanah dihubungkan bersama-sama oleh tanggul-tanggul pematang. Sekarang perjuangan terhadap laut menjadi semangkin berat sekali. Gundukan-gundukan tanah secara relatif aman, meskipun pada saat naiknya air pasang atau sewaktu badai-badai mendorong air laut Samudera Atlantika ke Laut Utara, akan tetapi suatu deretan pasir sempit dan tanah liat adalah masalah lain.

Sejarah purbakala Belanda dapat dirinci menjadi tiga jangka waktu, masing-masing digolongkan oleh pokok persoalan utama. Sampai kira-kira tahun 800 tahun Masehi, adalah pembangunan gundukan-gundukan tanah. Dua abad berikutnya adalah abad orang-orang Viking, yaitu orang-orang Norse yang datang untuk menjarah dan memperkosa. Jangka waktu ketiga adalah era Tembok Laut, atau masa kencana melepaskan dari kesukaran.

Selama beberapa tahun, gosokan air surut dan banjir terus-menerus menggerogoti garis-garis pantai. Jadi,waktu orang-orang Belanda memerangi laut di satu front, serigala air, seperti erosi itu dinamakan, menyerang mereka dari front lain,mengangkut tanah yang sama yang pada tahap yang pertama telah dibuat dengan sebegitu banyak usaha. Memerangi laut di dua front membuktikan tidak mungkin. Tidak ada alternatif terkecuali mengurangi pengedukan tanah gemuk yang dipakai sebagai bahan pembakar.

Hal ini menyebabkan berkurangnya garam maupun bahan bakar, sebab satu-satunya sumber garam mereka adalah abu bahan pembakar dari tanah gemuk. Tidaklah mengherankan bahwa para penduduk Belanda, orang-ornang yang keras kepala, sampai mereka mencari sumber-sumber lain untuk persediaan benda-benda yang mereka tidak punyai. Mereka temukan di luar perbatasan-perbatasan mereka; ke atas sungai-sungai yang membuka daerah pedalaman, akan tetapi khususnya di seberang lautan. Laut telah menjadi musuh turun-temurun. Mengapa tidak mencoba menjadikan laut sebagai sekutu? Usaha ini merupakan permulaan persekutuan yang menguntungkan di luar harapan-harapan mereka yang paling gila.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar